January 24, 2012

Perayaan IMLEK di pontianak




Wooohoooh, selamat hari raya imlek 2563, semoga rejeki dan kesehatan selalu lancer bagi anda yang merayakan. Menyenangkan sekali bisa ikut menikmati kemeriahannya. Saya sempat mengunjungi pusat penjualan pernak pernik di pusat perbelanjaan. Menyenangkan sekali bisa menikmati warna merah dan emas yg mendominasi product product yang dijual disini.

Tahun ini warga tionghoa menyambut tahun naga air, tahun naga dikabarkan cocok untuk menikah dan memiliki anak, karena dipercaya anak yg dilahirkan akan membawa keberuntungan dan bisa menghindarkan keluarga dari kesialan. Nah pernak pernik ini dibeli untuk memeriahkan acara tahun baru. Biasanya pernak pernik yang dibeli adalah ornament berupa lampu hias dan lampion yang mempunyai symbol sebagai penerang jalan hidup manusia.

Ada juga gantungan gantungan naga dan patung patung,memang penjualan pernak pernik seperti ini musiman dan biasanya barang barang tersebut ada yang impor ada juga yang buatan local sehingga harganya pun sangat bervariasi. Para pedagang pun biasanya menyesuaikan permintaan pasar.
Puas berjalan-jalan menikmati tempat penjualan pernak pernik, sayapun mencoba melihat kelenteng yang ada diPontianak sebelum sembahyang imlek, sepertinya semua kelenteng sudah bersiap dan bersolek, patung-patung sudah dibersihkan dan pernak pernik sudah dipasang untuk mempercantik kelenteng. Masyarakat tionghoa juga mempersiapkan diri untuk persembahyangan dengan memyiapkan segala kebutuhan, biasanya persembahyangan dilakukan pada malam menyambut imlek, dini hari hingga keesokan harinya, hal ini dilakukan karena dipercaya bahwa para dewa berkumpul didalam kelenteng.
Sedangkan kemeriahan lain juga terasa di  tiap sudut kota Pontianak dan terpusat disepanjang jalan gajahmada dan halaman kantor Gubernur, semua penduduk kota tumpah ruah untuk menyaksikan permainan kembang api dan petasan yang diselenggarakan mulai dari hari gelap hingga sekitar jam 01.00 dinihari, karena imlek menurut penanggalan china, pergantian hari disaat waktu menunjukkan pukul 0100 dini hari.

Penanggalan china sendiri adalah penanggalan bulan yang berbeda dengan penanggalan masehi yang menggunakan matahari. Kemeriahan terasa begitu luar biasa, seperti tahun tahun kemarin, permainan kembang api ini dilakukan sepanjang jalan gajahmada dari ujung ke ujung, kebetulan tahun ini akses jalan dari dan menuju gajahmada ditutup. Permainan kembang api ini dilakukan ditengah jalan dan saling bersahut-sahutan dengan jenis kembang api yang berbeda-beda ledakannya. Langit Pontianak benar-benar merah dan penuh asap. Warga benar-benar terpuaskan dengan pertunjukan ini. Jalan A yani juga macet cukup parah karena permainan kembang api juga dilakukan dihalaman kantor gubernur. Pontianak benar-benar meriah saat perayaan imlek, mengalahkan pesta kembang api di Ancol.
Oh ya, jangan lupa juga untuk menikmati hidangan khas imlek yang harus dinikmati setiap imlek. Kue keranjang (sering disingkat Kue ranjang) yang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee (甜棵) yang mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang, adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek, walaupun tidak di Beijing pada suatu saat. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek)
Dipercaya pada awalnya kue, ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga (玉皇大帝,Yu Huang Da Di). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang
Kue keranjang diproduksi banyak kota, salah satunya adalah di Bogor dan Yogyakarta
Asal-usul nama
Kue keranjang memiliki nama asli Nien Kao atau Ni-Kwee yang disebut juga kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali pada masa menjelang tahun baru Imlek. Di Jawa Timur disebut sebagai kue keranjang sebab dicetak dalam sebuah "keranjang" bolong kecil, sedangkan di Jawa Barat diberi nama Dodol Cina untuk menunjukkan asal kue tersebut yaitu Cina, walaupun ada beberapa kalangan yang merujuk pada suku pembuatnya, yaitu orang-orang Tionghoa
Sedangkan dalam dialek Hokkian, tii kwee berarti kue manis, yang menyebabkan orang-orang tidak sulit menebak kalau kue ini rasanya manis.
Arti di balik kue keranjang
Di Cina terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.
Nien Kao atau Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. 



Cara menyajikan
Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet. Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung, akan tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan bubur dengan dikukus (di-tjwee) kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan